Dari Kedutaan Besar ke Ruang Kelas — BRIDGE ESEM 2026 Tampilkan Kerjasama Australia-Indonesia dalam Aksi Iklim dan Antarbudaya
Jakarta, 30 September 2026 – Program Kemitraan Sekolah Australia-Indonesia BRIDGE mempertemukan para guru, kepala sekolah, dan pejabat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Agama (Kemenag) dalam Education Stakeholder Engagement Meeting (ESEM) — sebuah pertemuan untuk melihat bagaimana kemitraan sekolah jangka panjang mengubah kepedulian iklim menjadi aksi nyata di ruang kelas.
Acara dibuka secara resmi oleh Chloe Ashbolt, Counsellor - Public Affairs, Kedutaan Besar Australia Jakarta (DFAT), setelah sambutan dan pengantar dari Lisa Hayman, Direktur Asialink Education, serta penampilan pembuka dari siswa MAN 11 Jakarta yang menampilkan tarian kreativitas dan budaya setempat.
Sesi Pagi: Mengapa Sekolah Itu Penting
Pembicara pertama adalah Ibu Suharti, Ph.D., Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Pesannya jelas: perubahan iklim bukan lagi isu yang dianggap sepele. Ribuan sekolah telah terdampak bencana hidrometeorologi, dan jutaan siswa tinggal di wilayah dengan risiko menengah hingga tinggi.
Namun, sekolah, kata beliau, memiliki jangkauan yang paling luas. Kurikulum telah memberikan ruangnya — melalui Intrakurikuler, Kokurikuler, Ekstrakurikuler, dan Budaya Sekolah.
Merujuk pada kunjungan beliau ke Victoria pada Agustus 2026, beliau membagikan apa yang dilihatnya di Firbank Grammar School yang bermitra dengan pesantren-madrasah di Lumajang, Jawa Timur dan di Upwey Junior Secondary School, Victoria, di mana lima siswa memimpin peningkatan kesadaran iklim bersama peneliti dari universitas setempat. Yang membuat kemitraan itu berhasil, menurut beliau, bermuara pada tiga hal: kepemimpinan sekolah, mitra kolaborasi, dan keagenan siswa (student agency).

Selanjutnya, Dr. H. Abdul Basit, S.Ag., MM., mewakili Prof. Dr. Nyayu Khodijah, Direktur KSKK Madrasah, Kementerian Agama, memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Berlandaskan Panca Cinta – cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air – KBC mengubah kepedulian lingkungan menjadi kebiasaan harian. Dalam mata pelajaran Qur'an Hadis, siswa melakukan audit lingkungan madrasah. Dalam Fiqh, mereka mempraktikkan wudu hemat air. Di salah satu madrasah, siswa bahkan mengembangkan bioplastik dari singkong – menggabungkan cinta lingkungan dan cinta ilmu.

Thea Stinear dari CoolPlus menutup sesi pagi dengan menunjukkan bagaimana pendidikan iklim di Indonesia tumbuh sebagai sebuah ekosistem – yang menghubungkan sekolah dengan mitra di bidang konservasi, media, dan aksi anak muda, serta bagaimana aksi kecil di kelas terhubung dengan cerita nasional yang lebih besar.

Sesi Sore: Koneksi dalam Aksi
Jika pagi hari tentang visi, sore hari tentang wujud nyatanya melalui praktik langsung.
SDN 023 Pajagalan Bandung & Bertram Primary School, Perth – kemitraan selama 12 tahun sejak 2014. Proyek mereka Connecting through Sharing mengubah limbah kertas menjadi patung landmark melalui paper mache dan daur ulang (upcycling). Siswa tetap terhubung melalui panggilan video, sahabat pena (penpals), dan kunjungan homestay.
MAN 1 Magelang & Portland Secondary College, Victoria – berfokus pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 12. Siswa membangun papan nama sekolah dari Ecobrick, meluncurkan hidroponik dan pengomposan, membentuk Green Team untuk mendesain ulang tempat sampah, dan mencatat kegiatan pembersihan pantai ke dalam Database Tangaroa Blue.
SD Unggulan Hamzanwadi Mataram & St. Helens District High School, Tasmania – siswa mengidentifikasi lima isu utama berdasarkan pengamatan mereka sehari-hari: polusi kendaraan, limbah plastik, pemborosan air, sampah di laut, dan deforestasi. Respons mereka unik: Tarian Keberlanjutan (Sustainability Dance) untuk meningkatkan kesadaran semua pihak.

"Proses kerjasama Australia-Indonesia telah meninggalkan kesan khusus bagi guru maupun siswa, dimana para peserta menghargai kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan praktik yang dapat dikembangkan di kedua negara," ujar salah satu peserta. "Ini adalah program yang baik yang perlu dilanjutkan dan diperluas”.
Adapun peserta lain turut memberikan refleksinya: "Saya tidak pernah menyangka bahwa aksi-aksi kecil, terutama yang dilakukan oleh siswa, sangat penting dan berdampak. Dan itu menjadi lebih berdampak ketika dilakukan oleh kelompok yang lebih besar."
Kesimpulan
Sebagai penutup kegiatan di hari tersebut, Lisa Hayman mengumumkan pembukaan pendaftaran kohort Program BRIDGE 2027. Sejak 2008, telah terjalin 263 kemitraan sekolah, yang melibatkan hampir 1.000 pendidik di 18 provinsi di Indonesia.
ESEM 2026 telah memberikan warna tersendiri bagi para peserta, dimana yang sebelumnya melihat perubahan iklim sebagai isu ilmiah yang abstrak menjadi memahaminya sebagai tanggung jawab yang bersifat emosional, antargenerasi, dan kolektif. Dari patung kertas di Bandung hingga Ecobrick di Magelang dan Tarian Keberlanjutan dari Mataram hingga Tasmania, hubungan tersebut telah mampu melahirkan aksi nyata.
Program BRIDGE didukung oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Pemerintah Australia (DFAT) dan dikelola oleh Asialink Education, University of Melbourne.

